-
Sepucuk Surat
Senja kala itu begitu kelam
Angin mulai berhembus tak karuan
Sejak pesan suara yang begitu suram
Seperti ada pertanda dari Tuhan
Pagi lalu, mentari menemani saat kau membuka mata
Siang lalu, saat mengantri pengharapan kesembuhan
Sore lalu, lembayung menghantarkan doa-doa cinta
Malam lalu, saat-saat terakhir pada pertemuan
Masih kurasakan hangatnya tubuhmu
Masih kupahami bagaimana kau ingin berkata
Namun alat-alat itu tak mau peduli
Mungkin menghalangi niatmu untuk berpesan terakhir kali
Senja masih saja tak mau berteman
Awan-awan membisu, membeku dengan rahasia
Hati ini cemas tak kunjung reda
Hanya berharap kau baik-baik di sana
Namun, senja itu, saat hujan pun mulai turun
Tuhan telah menang meraih ruh mu
Isak tangis memecah hening
Kini hati bak serpihan puing
Semua seakan tak percaya
Pada takdir Tuhan di depan mata
Waktu terlalu cepat membawamu pergi
Pergi bersama senyum terakhirmu yg sudah terbujur kaku
Kami akan selalu rindu tawa canda itu
Kami akan selalu berdoa
Kami akan selalu berharap
Untukmu tempat terindah sisi-Nya
Tertanda kepada,
Seorang teman penakluk alam
Seorang sahabat berkeluh kesah
Seorang suami pencari nafkah
Seorang ayah penghibur lara,
(Alm) H.Suparno, Drs. M.Pd
Dari kami,
Yang selalu merindukanmu.
-
balabala20kali liked this
-
justbeyourself posted this
-
