1. Sepucuk Surat

    Senja kala itu begitu kelam

    Angin mulai berhembus tak karuan

    Sejak pesan suara yang begitu suram

    Seperti ada pertanda dari Tuhan

    Pagi lalu, mentari menemani saat kau membuka mata

    Siang lalu, saat mengantri pengharapan kesembuhan

    Sore lalu, lembayung menghantarkan doa-doa cinta

    Malam lalu, saat-saat terakhir pada pertemuan

    Masih kurasakan hangatnya tubuhmu

    Masih kupahami bagaimana kau ingin berkata

    Namun alat-alat itu tak mau peduli

    Mungkin menghalangi niatmu untuk berpesan terakhir kali

    Senja masih saja tak mau berteman

    Awan-awan membisu, membeku dengan rahasia

    Hati ini cemas tak kunjung reda

    Hanya berharap kau baik-baik di sana

    Namun, senja itu, saat hujan pun mulai turun

    Tuhan telah menang meraih ruh mu

    Isak tangis memecah hening

    Kini hati bak serpihan puing

    Semua seakan tak percaya

    Pada takdir Tuhan di depan mata

    Waktu terlalu cepat membawamu pergi

    Pergi bersama senyum terakhirmu yg sudah terbujur kaku

    Kami akan selalu rindu tawa canda itu

    Kami akan selalu berdoa

    Kami akan selalu berharap

    Untukmu tempat terindah sisi-Nya

    Tertanda kepada,

    Seorang teman penakluk alam

    Seorang sahabat berkeluh kesah

    Seorang suami pencari nafkah

    Seorang ayah penghibur lara,

    (Alm) H.Suparno, Drs. M.Pd

    Dari kami,

    Yang selalu merindukanmu.

    1. justbeyourself posted this
avatar_128
visual communication design student // sometimes poetic // parkour addict and try to be a good parkour practitioner // fan of artwork //
Page 1 of 1

Following